MATARAM KUNO DALAM ASPEK PENDIDIKAN
Arjung
(Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah FIS UNM)
- Sistem pendidikan dan pengajaran telah dikenal masyarakat Jawa Kuna, terlihat dari cerita-cerita yang terpahat pada dinding candi, cerita-cerita dalam pertunjukkan wayang karya sastra. Semua cerita itu meskipun telah diubah, diganti, ditambah, atau dikurangi, namun tetap mengandung maksud pendidikan yang mementingkan budi pekerti (Wirasanti, 1997).
- Sistem pendidikan dapat diketahui berdasarkan peninggalan sejarah. Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno abad VIII-X Masehi di Kabupaten Magelang berupa bangunan candi dan prasasti. Peninggalan sejarah tersebut menunjukkan adanya peradaban yang sudah terstruktur. Peninggalan sejarah berupa bangunan candi dan prasasti memberikan informasi bahwa masyarakat Kerajaan Mataram Kuno sudah mengenal pendidikan. Masa Hindu dan Buddha dikenal beberapa sumber data yang dapat digunakan untuk menyingkap berbagai segi kehidupan di zamannya, antara lain segi kegiatan pendidikan. Sumber tertulis berupa prasasti dan karya sastra. Sumber penunjang berupa relief pada candi. Kadang-kadang dalam relief menggambarkan situasi belajar mengajar (Sedyawati, Zainuddin, & Wuryantoro, 1991).
- Di Kabupaten Magelang ditemukan sumber sejarah berupa bangunan candi dan prasasti yang dapat memberikan informasi mengenai pendidikan masyarakat pada abad VIII-X Masehi. Kehidupan masyarakat Kerajaan Mataram Kuno abad VIII-X Masehi yang terstruktur mengindikasikan adanya kegiatan pendidikan. Terdapat kelompok masyarakat brahmana, ksatria, waisya, dan sudra. Kedudukan kelompok brahmana lebih tinggi dari kelompok lainnya, karena mememiliki pengetahuan yang mendalam tentang keagamaan (Sedyawati, Zainuddin, & Wuryantoro, 1991).
- Brahmana memiliki peran untuk mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan masalah keagamaan. Bukti pendidikan keagamaan yang dilakukan oleh brahmana adalah pembangunan bangunan suci berupa candi. Pendirian bangunan suci berupa candi memerlukan pengetahuan di bidang keagamaan. Pengetahuan di bidang pendidikan tersebut diajarkan oleh brahmana. Menurut Munandar para pekerja bukan tukang bangunan biasa, melainkan para slipin (pendeta seniman) yang bertugas mendirikan bangunanbangunan suci (Munandar, 2015). Pembangunan bangunan suci memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari proses belajar. Berdasarkan data kitab Manasara-Silpasastra terdapat enam macam orang/kelompok orang yang berperan dalam pembangunan candi. Ke enam orang tersebut adalah yajaman, sthapaka, sthapati, sutragrahin, taksaka, wardhakin (Munandar, 2015).
- Pendirian bangunan candi memerlukan keahlian khusus di bidang keagamaan. Bangunan candi sebagai sarana ritual keagamaan tidak boleh sembarangan dibangun. Pembangunan tersebut harus memerhatikan konsep keagamaan Hindu dan Buddha. Golongan brahmana sebagai orang yang mengetahui agama Hindu dan Buddha merupakan seorang guru. Brahman tersebut mengajarkan konsep keagamaan Hindu dan Buddha kepada murid atau siswa. Keberadaan guru dan aktivitas pendidikan pada prasasti Kerajaan Mataram Kuno abad VIII-X Masehi di Kabupaten Magelang tidak disebutkan. Peninggalan berupa candi dan prasasti yang ditemukan di Kabupaten Magelang hanya memberikan data mengenai hasil dari kegiatan pendidikan. Hasil dari kegiatan pendidikan pada masa Kerajaan Mataram Kuno abad VIII-X Masehi yang ditemukan di Kabupaten Magelang berupa pengetahuan masyarakat. Sebagai contoh masyarakat Kerajaan Mataram Kuno abad VIII-X Masehi sudah mengenal astronomi atau penanggalan. Data mengenai astronomi atau penanggalan terdapat dalam prasasti.
- Berikut merupakan kutipan prasasti yang memuat data mengenai astronomi atau panggalan. Prasasti Kamalagi Tahun 754 Saka Sisi Depan Baris 1-4
1.// swasti śaka warṣâtī
2. ta 753 māsa waiṣā
3. kha kṛsṇapakṣa tithi daśa
4. mi wāra tu wa °aŋ tatkāla saŋ pamgat
Terjemahan:
1. // Selamat tahun Śaka yang telah berlalu
2. 753 (tahun) hari Selasa Wage,
3. paringkelan Tunglai [tu wa ang], tanggal 10 paro gelap bulan Waiṣāk
4. ketika [tatkāla] (pejabat) Sang Pamgat (di)... (Wurjantoro, 2012: 7-8)
Berdasarkan Prasasti Kamalagi 754 Saka menunjukkan bahwa masyarakat Kerajaan Mataram Kuno sudah mengenal penanggalan. Prasasti Kamalangi ditetapkan pada hari Selasa Wage, paringkelan Tunglai, tanggal 10 paro gelap bulan Waiṣāk. Prasasti Kamalagi menunjukkan bahwa masyarakat Kerajaan Mataram Kuno sudah mengenal penanggalan. Pengetahuan mengenai penanggalan diperoleh oleh masyarakat sebagai hasil dari pendidikan.
PETUNJUK:
1. SILAKAN ANDA MEMBACA MATERI DIATAS, SETELAH MEMBACA MATERI DIATAS SILAHKAN TULIS KALIMAT BERIKUT "SAYA SUDAH MEMBACA MATERI, DAN MEMAHAMINYA" DIKOLOM KOMENTAR
2. SILAHKAN TULIS NAMA, NIS DAN KELAS ANDA PADA KOLOM KOMENTAR
3. SETELAH ITU, BUATLAH 1 PERTANYAAN MENGENAI MATERI DIATAS PADA KOLOM KOMENTAR
4. BATAS WAKTU MEMBACA MATERI DAN ABSEN ADALAH PUKUL : 07.30-08.15 WITA
4. MINGGU DEPAN KITA AKAN SINGGUNG MATERI TENTANG "ADAKAH PENGARUH HINDU BUDDHA DI SULAWESI SELATAN ????"
4. TETAP BELAJAR DAN JAGA KESEHATAN
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
"DURHAKA KALAU TIDAK BELAJAR SEJARAH"